12 April 2013

Business is like a betting?

Lama nggak nge-blog nih... Padahal  banyak hal yang dibutuhkan untuk kontemplasi. Sedikit banyak ada perubahan yang cukup signifikan. Ini terkait dengan coba-coba usaha di pembibitan lele (catfish breeding). Dua kali mencoba, ternyata tak seindah hitungan. Tekor, gan. hehehe...  Emang ada yang balik namun tidak sebanding dengan modal awal yang dikeluarkan.  Apa mau dikata, tekor tetep aja tekor.

Lama-lama, bagi saya, sepertinya sebuah  usaha layaknya tidak lebih dan tidak kurang dari sebuah  pertaruhan setelah mencoba-coba berbagai peruntungan (yang gak untung-untung). Kalkulasi dan planning sepertinya terlalu rigid manakala berbenturan dengan fakta di lapangan. Jadi ada melesetnya walaupun sudah dicoba dengan mengeliminasi kendala yang ada. Ndilalahnya, ada aja masalah.
ilustrasi

Bermula dari ada orang yang menawarkan tanah di Parung sana. Nggak lebar bener, cukup lah untuk usaha kecil-kecilan. Ide awalnya sih, maunya untuk refreshing dan ngilangin stress aja, punya lahan yang bisa dilihat-lihat untuk menghilangkan kejenuhan rutinitas. Nggak berpikiran mau serius untuk mengelola lahan itu. Bisa mancing di situ, bisa melihat kecipak ikan di sawah, dan mungkin bisa mencari inspirasi di situ. Namun apa mau di kata sodara-sodara,..... Naluri bisnis (ciee..) memanggilku. Detak jantungku berdetak keras ketika datang tawaran itu. Sebut saja Si Udin-katanya sih guru ngaji, datang dengan meyakinkan, menjelaskan bagaimana cara pembibitan lele dan untung yang diperoleh dari usaha itu. Jadi ijo tuh mata kalau soal duit...hohoho.... Dipikir-pikir masuk akal juga (ini ni..kesalahan pertama, namanya usaha atau yang diniatkan dengan bisnis gak boleh pake asumsi). Harus mateng survey nya. Gak boleh katanya doang sudah mau nyebur aja ke bisnis itu.Apalagi dengan modal yang besar.

Kesalahan kedua adalah tidak paham musim tanam. Bagi orang-orang dahulu baik yang pelaut maupun petani, mereka sangat memahami musim. Kapan saatnya musim tanam, kapan saatnya musim melaut kapan saatnya musim panen. Karena efek terbesar dari musim adalah keberhasilan atau kegagalan dari usaha itu sendiri. Paling tidak dengan bisa membaca musim, maka kerugian dapat diminimalisasikan. Kalo mau rugi ya tidak rugi benar-benar. 

Selanjutnya, kesalahan (yang ku pelajari dari temenku di Lampung)  adalah tidak bisa mencari temen bisnis yang bener-bener bisa dipercaya (counterpart). Jangan kata dia itu (katanya) guru ngaji, jika emang mau naroh usaha ya harus dicari orang yang bener-bener bisa dipercaya. Guru ngaji juga manusia. Intinya lihat seberapa amanah orang itu.

Last but not least, bikin kontrol sederhana namun orang yang kita percaya tidak merasa diawasi. Yang namanya kontrol atau pengawasan tentu secara psikologis menjadi terkekang nya orang yang merasa diawasi. Tidak bebas. Tidak bisa semau-maunya. Disitulah kita haarus bermain cantik agar yang kita awasi tidak merasa diawasi. Pointnya adalah kita tetap dapat mengontrol namun orang yang kita kontrol meraasa enjoy dan tidak merasa dihakimi. Doing business like an usual.  


Terus, bagaimana yang sedang  aku coba lakukan sekarang? Apakah setelah tidak (baca:belum) berhasil, gagal kemudian mau berhenti dan keluar? Mau mencoba semacam cut loss ? Tentu bukan penyelesaian yang elegan. Setidaknya bagi saat ini. “How soon 'not now' becomes 'never'.”  (Martin Luther). Toh sedikit-dikit bisa dapat ilmu yang truly completely diferent dan sedikit excitment dan juga passion yang masih menyala...... So we do again

24 April 2012

Kerja Sampingan

Tak ada yang sempurna dalam hidup ini. Aku ingat pengalaman masa kecilku dulu. Aku delapan bersaudara. Satu telah meninggal mendahului kami. Ayah ibuku guru SD biasa. Dengan gaji yang biasa pula. Jaman aku SD dulu, terasa benar berat orang tua kami membiayai anak-anaknya yang mulai tubuh besar. Dari mulai uang jajan, uang sekolah dan biaya hidup anak-anaknya. Toh, orang tua kami cukup kreatif untuk menyambung hidup. Aku ingat, waktu itu setiap bulan puasa dimana satu bulan full libur, ibu jualan kelontong di pasar kecamatan. Jual piring, gelas, sendok, cangkir dan semacamnya. Tak tampak gurat kelelahan dalam wajahnya. Bayangkan! Satu bulan penuh sampe menjelang lebaran, ibu nyambi jualan di pasar. Hasil dagangannya itu? ya itu untuk beliin anak-anaknya baju lebaran. Mungkin itu kebanggaan ibu saya yang bisa membelikan baju lebaran yang kadang dibeliinnya setahun sekali saja. Bapak saya juga nggak kalah kreatifnya, dulu sempat juga punya daihatsu colt. Nggak tahu dapat uang darimana, Bapak beli mobil itu. Ceritanya, mobil itu dijadikan rental kecil2 an. Eh, baru pertama dirental, mobil itu kebalik! Emang sih, ditanggung perbaikannya sama yang nyewa. Tapi, setelah kejadian itu, Bapak trauma. Beberapa lama kemudian, mobil itu dijual. Gagal deh usaha Bapak. Toh, yang namanya usaha sampingan orang tua tetap jalan. Terakhir, yang aku ingat adalah beli sawah setelah sebelumnya mencoba menjadi makelar motor. Kayaknya mau berjalan lama tuh! Beberapa kali panen padi dan palawija, kami anak-anaknya ikutan ke sawah. Tapi tak terlalu lama, sawah itu dilego juga. Apa pasal? Si kakak mau kuliah, jadi berhubung gak ada lagi yang bisa dijual ya terpaksa sawah itu pun dijual. Toh, kayaknya pengorbanan orang tua membesarkan anak-anaknya tidak sia-sia. Setidaknya sekarang semua anak-anaknya dapat nyari makan sendiri tanpa merepotkan lagi orang tua.

Toh, pengalaman tentang kerja sampingan terus membekas di benakku. Setelah beranjak kerja beneran, aku mulai juga mencari kerja sampingan, kecil-kecilan aja. Aku ingat pertama kali mencoba bisnis dengan ikut-ikutan jualan beras temen. Temen yang juga baru mulai belajar bisnis jualan beras mengajak join. Ya sudah, daripada tidak banyak yang dikerjakan, aku mau aja diajak. Lumayanlah untuk tambah-tambah pengalaman. Untung satu kantong beras isi 25 kg kalau nggak salah sekitar lima rebu rupiah aja. Untuk ukuran tahun 1996-1998, uang segitu lumayan lah. Ingat benar waktu itu untuk membelanjakannya juga rasanya juga sayang. Mengingat betapa aku harus mengangkat dan mengantarkan sendiri beras yang dijual. Tapi biasa karena kurang sabar dan kali untungnya kurang banyak (hehehe....), ya cuma sebentar doang ngejalaninnya. Tapi, lumayan lah nambah pengalaman. Setelah lama nggak ada usaha coba lagi, akhirnya aku nyoba usaha lagi. Jual baju. Menilik sukses usaha kakakku, akhirnya aku melirik usaha jual baju. Kredit baju tepatnya. Dengan modal sekitar 1 jutaan, aku nyari baju-baju di Tanah Abang untuk dijual di Lampung dengan cara kredit. Cukup lumayan juga hasilnya, minimal 40% keuntungan bisa masuk dari jual beli baju kreditan dengan tempo 3 atau 4 kali bayar. Masalahnya ya itu pasar baju lebih cepat jenuh dibandingkan dengan pasar beras. Kalau beras, tiap orang pasti butuh terus hari-harinya. Tapi kalau baju, orang cukup 3 atau 4 kali dalam setahun baru butuh baju baru lagi. Dan, usaha jual beli baju itu juga tidak bertahan lama karena pasar yang sudah jenuh, tapi nggak mau memperluas pasar lagi. Lagian, toh usaha itu hanya sampingan ajah. Ya sudah, lama-lama lupa tuh bahwa usaha itu perlu terus dipelihara dan diingat-ingat bahwa kita itu punya usaha lain. Utang kreditan orang yang ngambil baju, lama-lama jadi malas ngambilnya gara-gara kreditnya makin sedikit. Ya sudah... kayaknya itu usaha jadinya impas aja ketika dikalkulasi lagi.

Nah, menjelang forty, isteri sih pernah bilang setidaknya ada usaha sampingan yang perlu diseriusi lagi. Usaha apa lagi ya?? Yang kira-kira bisa profit taking dan kita bisa konsisten menjaganya. Nggak muluk-muluk. Bisa naik haji lah minimal ...hehehe. Syukur2 bisa kebeli apartemen di tengah Jakarta. :D.

Ada konsep sederhana sih. Idenya sih udah lamaa banget sebenarnya. Konsep awalnya sederhana saja. Jadikan konsumen sebagai raja. A consumer is a king. Kepenginnya sih punya mart/swalayan mini tapi lengkap dan mampu men-servis satu area tertentu, semisal satu kompleks perumahan dengan sistem COD. Seberapapun (dalam jumlah minimal tertentu) barang yang dibeli, kita antar. Tentu ada costnya, seperti layaknya tukang antar galon air isi ulang, misalnya Rp.1.000 per satu galon. Untuk belanja barang2 lainnya perlu dikalkulasikan biaya yang pas atas service kita antar barang ke konsumen.  Nggak mungkin lah orang beli satu sikat gigi misalnya, kita antar. Tekor kita nanti, man!!
Emang kayaknya konsep dagang kayak gini rasanya hanya bisa untuk perumahan yang 100-200KK biar nggak tekor untuk ngantar2nya. Lebih pasnya lagi untuk perumahan yang baru dibuka, karena belum banyak saingannya juga.

Apa nggak rugi dengan konsep dagang kayak gitu?? Ya enggak lah!!! (Belum tahu ding!!) Namanya baru pergulatan di konsep. Tapi yang jelas, kita berdagang niatnya tentu bukan untuk satu atau dua tahun. Yang mau kita bidik adalah konsumen yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap produk yang kita jual sekalipun barang yang akan kita jual adalah sama dengan tempat lain. Sebagaimana dalam teori marketing, yang akan kita bidik adalah tingkatan loyalitas pada client,  advocate dimana pelanggan membeli semua barang/ jasa yang ditawarkan yang mereka butuhkan, mereka membeli secara teratur, hubungan dengan jenis pelanggan ini sudah kuat dan berlangsung lama yang membuat mereka tidak terpengaruh oleh tarikan pesaing produk lain. Bahkan layaknya pada level klien, advocates membeli seluruh barang/ jasa yang ditawarkan yang ia butuhkan, serta melakukan pembelian secara teratur sebagai tambahan mereka mendorong teman-teman mereka yang lain agar membeli barang/ jasa tersebut. Ia membicarakan tentang barang/ jasa tersebut, melakukan pemasaran untuk perusahaan tersebut dan membawa pelanggan untuk mart kita tersebut. Itu yang sebenarnya mau dibidik dari konsep swa-mart yang kepenginnya segera bisa direalisasikan. Tinggal kalkulasi modal neh maunya..................hehehe


22 Desember 2011

Ketika kupu-kupu malam itu menangis


Dengan balutan ketat celana jeansnya, wanita itu terlihat tak ada bedanya dengan wanita kebanyakan sekarang. SMS yang dikirimkannya kepadaku membuatku, mendatangi wanita itu. "Kak, bisa ke sini kak?" Ada apa batinku ketika aku menerima smsnya. Tidak seperti biasanya Dian -wanita itu- berani mengirim SMS seperti ini. Dia sangat paham jadwal dimana dia bisa menggangguku. Dan, di malam yang selarut ini di depan sebuah cafe di bilangan Tebet, Dian menantiku dengan sisa linangan air matanya. Cafe sudah sepi.

"Kak, aku dipecat" lemah suaranya ketika aku menghampirinya
Ada perasaan dungu kalau aku bertanya kenapa. Dua minggu nggak mengunjungi cafe itu membuatku tidak bisa cepat meraba apa yang sebenarnya sedang terjadi di cafe itu. Aku hanya terdiam, menikmati rokokku. Sambil merasakan nikotin yang masuk ke paru-paruku. Dan, kemudian kuhembuskan asap rokok pelan-pelan.
"Jadi gimana?" pilihan pertanyaan yang bodoh juga, tapi reflek saja kutanyakan begitu.
"Gak, tahu..........." kata Dian pelan. Sebenarnya jawaban yang tentunya sudah aku pahami. Justru karena jawaban itu dia menganggapku bisa mencari jawaban selain nggak tahu.

Dian adalah penyanyi di sebuah cafe tempat aku sering menghabiskan waktuku. Bukan karena hobi sama musiknya. Aku hanya sekedar begadang dan mencari tempat keramaian di malam hari dan kebetulan juga dekat dengan kantorku. Dan yang utama adalah tempatnya untuk ukuran kantongku pas lah. Jadi nggak terlalu menguras kantongku. Itu saja.
"Kenapa?" tanyaku hati-hati. Kupandangi wajahnya itu lekat-lekat.
"Nggak tau? Bobby tadi manggil aku. Setelah ngomong visi cafe ke depannya, akhirnya dia ngomong ujung-ujungnya, kamu dah nggak cocok lagi kerja di sini....."terang Dian. Bobby itu manajer di cafe itu "Itu dipecat khan maksudnya?" tanya Dian masih setengah nggak percaya dengan apa yang menimpanya. Shock dengan pemecatan yang tiba-tiba membuatnya limbung.

Dian janda yang tidak jelas statusnya. Dibilang cerai belum, dibilang masih bersuami, suaminya tidak jelas ada dimana. Memang seperti kisah klasik para wanita malam. Namun demikian kenyataannya. Dian tak ubahnya sama dengan wanita malam lainnya. Berusaha menghidupi diri dan anak semata wayangnya dengan jalan yang dia bisa. Dian wanita tegar dan berani. Jauh-jauh dari kampung dengan bermodalkan ijazah SMA, dan wajah yang lumayan, hanya cafe ini lah yang bisa menampung dia untuk mencari duit bagi hidupnya. Sekian tahun sudah dia bekerja disitu akhirnya dipecat juga Dian. Dan dia tidak tahu sekarang harus nyari kerja dimana lagi.

"Trus gimana dengan aku, Kak? Gimana dengan Gilang? Sekolahnya., hidupnya dan masa depannya. Dia pas butuh-butuhnya perlu duit. Sedangkan aku sekarang dipecat nggak dapat duit lagi...Gimana dong Kak?" tanyanya lemah.

Aku terang aja nggak bisa memberikan jawaban yang langsung bisa membuat Dian adem. Aku juga bingung sekarang. Memberi kerja Dian? Itu mungkin alternatif yang baik tetapi siapa yang mau? Aku? Gila aja. Aku aja kerjanya ngikut ekportir yang nggak jelas omzetnya. Yang penting aku dibayar. Tapi kalau mencarikan pekerjaan Dian? Yang enggak-enggak aja. Aku juga cuma karyawan biasa. Enggak....Gila aja...Relasiku nggak banyak. Hanya temen-temen kerja saja. Ku garuk rambut kepalaku yang tidak gatal-gatal amat. Rasanya keresahan Dian merambat menjadi keresahanku juga. Ku tatap wajahnya lekat-lekat. Aku tebak mungkin alasan pemecatan Dian lebih dikarenakan Dian yang sudah tidak muda lagi bagi cafe itu. Orang mahfum kalau penyanyi juga berpengaruh besar atas daya tarik cafe. Penyanyi yang masih segar, muda, ranum dan sensual dengan suara yang kadang dipas-pasin bisa menjadi daya tarik orang. Menjadi nilai lebih sebuah cafe dibanding cafe lainnya.

Namun apa karena itu Dian dipecat? Pertanyaan yang sepantasnya lebih dijawab oleh Bobby. Bagi Bobby yang manajer itu, pasti lebih berpikir pragmatis aja. Bagaimana cafenya aja dan eksis. Tetapi bagi Dian, seribu alasan tentang pemecatan itu adalah yang pasti dirinya sudah kehilangan sumber pendapatannya. Dia nggak bisa lagi membiayai Gilang anaknya. Dian nggak tahu ke depannya gimana. Pesangon yang dari Bobby pasti hanya bertahan untuk beberapa bulan ke depan aja. Selanjutnya apa, Dian belum tahu. Yang Dian tahu ada Gilang yang harus dia hidupi.


27 September 2011

Mati Suri


Barangkali ini fase mati surinya blog sebelum mati beneran hehehe...Soalnya sudah lama gua nggak ngulik-ngulik dan ngutak-ngatik blog gua lagi. Apalagi menulis.....

Gua nggak memungkiri, ternyata untuk menjadi konsisten menulis membutuhkan effort yang nggak sedikit Sodare-sodare. Nulis blog ternyata gak semudah menulis dalam diary. Dulu waktu SMA sampe kuliah, gua masih rajin nyatet-nyatet dalam diary gua. Setiap hari, gua bisa nulis sampe satu halaman penuh, bahkan kadang lebih kalau lagi moodnya bagus. Hasilnya adalah berbuku-buku diary berhasil gua isi dengan sukses walaupun isinya mungkin kebanyakan curhatan gaya anak SMA an hehehe...Seingat gua ada empat diary yang gua isi dan alahamdulillah Ibu gua berbaik hati mau menyimpankan diary itu dalam kardus yang relatif aman dari jangkauan rayap. And, well Lebaran kemarin baru gua buka-buka kembali 'harta karun' gua tersebut.

Ada satu niat dulu waktu masih rajin nulis diary. Gua pernah baca tulisannya alm Umar Kayam yang pesannya kira-kira begini kurang lebihnya : Kalau mau belajar menulis belajar lah menulis apa saja dengan satu target tertentu. Misalnya seperti yang gua lakukan selama itu yakni menulis diary satu halaman minimal tiap harinya. Dan, memang setelah mempraktikan sekian lama, secara otomatis (pinjam istilah pengantar kawan SMA gua) ide yang sedikit-sedikit itu bisa dijlentrehkan dengan panjang lebar dan mungkin berbusa-busa seperti sabun mandi itu.......

Manakala gua mulai semangat nge-blog, awalnya gua pikir akan bisa seperti itu. Menulis dan mengalir. Ternyata tidak semudah itu lagi. Mungkin otomatisasi nulis sudah tidak tajam lagi. Dan, perlu diasah kembali. Balik lagi ke konsistensi. Keajegan yang semestinya bisa terpelihara dengan target minimal. Lha wong blog ini cuma 'buangan limbah pemikiran dan khayalan kok'. Jadi gak perlu terlalu diseriusi. Yang penting tetap Menulis agar Gak Mati Suri...............(lagi)

03 Maret 2011

Masih ada esok, Nurdin ………

Euphoria sepak bola nasional di akhir tahun 2010 membuncah seiring dengan prestasi ciamik timnas PSSI di turnamen AFF 2010 kemarin. Walaupun tanpa gelar, permainan timnas yang cantik telah memberi semangat baru bagi Indonesia. Bangsa yang lelah dengan intrik politik dan hukum dan kelelahan mengejar pertumbuhan ekonomi yang tak kunjung membaik. Kita bisa menyatu. Kita bisa melupakan pebedaan. Bersatu dalam satu nasionalisme Indonesia. Terbukti bahwa nasionalisme anak-anak muda kita tidak tergerus dengan jaman. Bersatu dalam satu dukungan. Kita bisa menyatukan persepsi keindonesiaan kita. Kita masih cinta Indonesia kita. Kita bisa memberi yang terbaik bagi bangsa ini. Itu yang terlihat dari semangat Timnas dan supporter Indonesia. Kita bisa menegakkan harga diri bangsa kita sebagai bangsa yang beradab. Melupakan machiavelisasi dalam lapangan hijau. Menghilangkan penghalalan segala cara untuk menang seperti yang dilakukan supporter Malaysia di Bukit Jalil. Bahwa kemenangan bukanlah satu-satu tujuan dalam sebuah pertandingan. Belajar memaknai fairplay dalam pertandingan. Bermain jujur, bermain untuk menang, tapi menerima kekalahan dengan martabat. Saya rasa itu satu point penting dalam hasil akhir sebuah turnamen. Timnas dan supporter sepak bola telah belajar memahami makna fairplay.

Namun di tengah-tengah euphoria ini, pengurus PSSI sepertinya tutup mata dengan desakan rakyat pencinta sepak bola untuk memperbaiki sistem persepakbolaan dan organisasi PSSI, seperti tuntutan mundur Nurdin Halid atas prestasi buruk PSSI selama masa kepemimpinannya. Tidak perlu lah sampai menunggu kehancuran sepakbola kita. Pengurus PSSI semestinya juga harus mau mendengar dan menampung aspirasi rakyat banyak pencinta sepak bola. Nah, ini semestinya ditangkap juga oleh pengurus PSSI. Demikian juga dengan stakeholders lainnya. Belajar juga memaknai fairplay dalam berorganisasi. Berintrospeksi dan berubah untuk kebaikan sepak bola kita. Demikian juga dengan adanya LPI (Liga Primer Indonesia). Bukannya welcome atas kompetisi itu, PSSI via Sekum Nugraha Besus main ancam sanksi kepada para pemain dan klub peserta LPI. Dan sebenarnya dengan tidak mengakui LPI menjadikan PSSI sebagai lembaga yang anti perubahan dan anti masukan. Jadi kelihatan benar kedodorannya PSSI. Orang sudah ngomong Piala Dunia, PSSI ini masih berkutat dengan kompetisi domestik yang penuh dengan kontroversi. Kenapa bisa begitu ? Sibuk sendiri dengan PSSI sendiri.

Kemarin-kemarin dan sampai hari ini, demo menentang pencalonan Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI marak dan ramai di sejumlah kota besar Indonesia. Demo, sumpah serapah, aksi teatrikal menyatu dalam tingkah polah pendemo. Jutaan pecinta sepak bola di seluruh pelosok tanah air menyumpahserapahi Anda. Membenci cara-cara Anda melanggengkan kekuasaan. Namun dalam pandangan saya ,mengutip kata-kata orang bijak, damailah dengan kebencian dan dendam. Anda, Nurdin Halid harus menyerap energi positif dari kebencian dan dendam jutaan pecinta sepak bola Indonesia kepada Anda. Membuktikan bahwa Anda mau melihat dan mendengarkan demo dan celaan serta sumpah serapah orang untuk tidak lagi mencalonkan sebagai ketua umum PSSI. Mau mengerti dan memahami bagaimana orang sudah lelah dengan Anda. Membalikkan kebencian dan dendam jutaan pecinta sepak bola Indonesia menjadi cinta dan kerinduan akan kiprah Anda di pentas yang lain misalnya politik. Bukankah Anda anggota Golkar? Tentu di sana Anda bisa membawa energy positif yang masih ada pada Anda dan membuktikan bahwa Anda capable untuk mengurus bangsa ini lewat bidang yang lain. Bukan di sepak bola lagi. Lebih-lebih adanya kabar dari Zurich bahwa jika FIFA akan melarang Nurdin Halid mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI periode berikutnya, sudah jadi pertanda jika rezim Nurdin akan segera habis di sepakbola Indonesia dan Anda segera membuat semacam announcement tentang keputusan untuk membatalkan pencalonan Anda.

Mari kita pikirkan bahwa masih ada mentari esok yang bersinar. Masih ada secercah cahaya yang menyinari kita menjalani hidup selanjutnya. Satu persoalan akan ditimpa persoalan satu lainnya. Atau bahkan mungkin lebih banyak persoalan. Setumpuk berat persoalan tak harus menjadi tambahan beban kita melangkah ke depan. Terlalu banyak energi habis digunakan untuk sia-sia. Tugas Anda ke depannya adalah buat suksesi PSSI yang smooth dan membanggakan bangsa ini. Saatnya Anda mau legawa dan menerima serta memahami bahwa Anda memang mampu untuk memimpin kembali PSSI. Akan tetapi ada orang yang lebih bisa dan mampu memimpin PSSI supaya menjadi lebih baik lagi. Yang bisa membuat PSSI sebagai salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Bukan sebagai tempat caci maki. Bukan sebagai tempat celaan. Bukan tempat tumpahan sumpah serapah jutaan penggemar sepak bola tanah air. Apalagi cuma sekedar tempat untuk bisa eksis sebagai ketua umum PSSI!!!

19 Oktober 2010

Siapakah Pemimpin itu?

I. PENGERTIAN PEMIMPIN / MANAJER

Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama. Seorang Pemimpin berurusan dengan efektivitas, orang, memberdayakan dan menyalurkan potensi yang dimiliki oleh orang lain. Sedangkan seorang Manager hanya berurusan dengan benda-benda, struktur, sistem dan efisiensi. Persamaannya adalah peran mereka mengelola antar pribadi, pemrosesan informasi, dan pengambilan keputusan, namun ketrampilan yang diperlukan berbeda

II. KRITERIA PEMIMPIN / MANAJER YANG SESUAI DENGAN TUNTUTAN MASA KINI.

Kriteria pemimpin/manajer yang sesuai dengan tuntutan masa kini tergantung dengan di lingkup geografis dimana dia berada. Bagi pemimpin/manajer yang berada di negara maju (developed country), kriteria pemimpin yang sesuai akan berbeda dengan kriteria pemimpin yang berada di negara menengah (middle country). Termasuk juga berbeda dengan di negara berkembang (developing country).

Pemimpin yang dibutuhkan di negara maju biasanya harus lah seseorang yang penuh inovasi karena persaingan yang ada sudah penuh dengan persaingan teknologi. Pemimpin yang dibutuhkan di negara menengah biasanya haruslah seseorang yang mampu memperbaiki kualitas karena persaingan yang ada di negara menengah adalah persaingan mengenai kualitas. Sedangkan pemimpin yang dibutuhkan di negara berkembang adalah pemimpin yang bisa melakukan efisiensi di segala bidang.

Bagi Indonesia, pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu me-manage segala sesuatunya di lihat dari sudut pandang efisiensi dan efektivitas sumber daya untuk peningkatan kualitas. Tantangan terbesar Indonesia adalah efisiensi. Pemimpin yang berhasil mengelola sumber daya yang dimiliki bangsa Indonesia secara efisien dan efektif akan berhasil meningkatkan level negara kita ke level negara menengah (middle country).

Seorang calon pemimpin tentunya harus memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dalam memimpin serta harus bersikap profesional dalam menjalankan tugas. Pemimpin yang efektif dan efisien dapat menggunakan dan menggabungkan berbagai gaya leadership yang berbeda, yang berakar pada sejumlah elemen nilai-nilai, emosional, dan intelektual yang unik. Setidaknya ada beberapa kriteria karakter dasar pemimpin yang dibutuhkan Indonesia dalam konteks kekinian. Itu adalah:

a. Coercive (mampu memenuhi kebutuhan secara cepat)

b. Authoritative (memobilisasi masyarakat dengan visi)

c. Affiliative (mampu menciptakan harmoni dan membangun ikatan-ikatan emosional)

d. Democracy (membuat konsesus melalui partisipasi)

e. Pacesetting (meletakkan standar performa yang tinggi)

f. Coaching (membangun masyarakat demi masa depan yang lebih baik)

g. Decisive (memiliki kekuatan atau kualitas untuk memutuskan, untuk mengakhiri perselisihan yang krusial atau paling penting)

Tentu kriteria dasar pemimpin yang dibutuhkan semacam itu akan menjadi sia-sia belaka manakala organisasi baik, negara, pemerintahan maupun perusahaan tidak mampu menjadi alat untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri. Artinya, harus ada kemauan yang besar untuk bisa membuat organisasi dan aturan-aturan yang fleksibel untuk mencapai tujuan organisasi.

Sedangkan kriteria dasar pemimpin pada intinya adalah seorang pemimpin masa depan apabila ingin efisien dan efektif, maka diperlukan lebih banyak pengetahuan yang bersifat menyeluruh dan tidak perlu menjadi ahli, tetapi setidaknya cukup mengenal dengan baik untuk dapat menjawab pertanyaan yang tepat dari orang lain, memecahkan masalah dengan cerdas, cepat dan tegas, serta membuat keputusan yang tepat yang didasari pada proses yang logis dan partisipatif. Kriteria lain yang relevan adalah keberanian pemimpin untuk menjadi akuntabel (mekanisme pertanggungjawaban atas kemajuan, hambatan, capaian, hasil, manfaat) dari dan transparan dalam setiap pengambilan keputusan.

14 Oktober 2010

Just For You (Richard Cocciante)

I can’t stay now, I’m just wait now
My hand they grow so impatient
Many things I’ve got to do now
for the first ray of the morning

Though she dreams in peacefull slumber
Sleep to me just doesn’t come
When she wakes I’ll try to tell her
Everything I’ve to say

And the night so dark inside me
Makes me finally understand
Where the love that she has given
She can light the sky forever

It’s the way she gives so freely
It’s the way she takes my hand
I’ll just ask the sunshine brightly
Got to see her smile again

Then I’ll sing the song I’ve written
And I’ll make the whole world listen
In the silence just for you
Like no one has ever heard

And I’ll wake up all the lovers
And I’ll keep them back for hours
And we’ll do the things we’ve wanted
The way that lovers do

Then we’ll run to the street
And we’ll start to dance like crazy
Though she wants only to feel joy
It’s the love she give and need

And we’ll take me tab of chorus
And we’ll paint the street and building
Rainbow colors everyone
Though she wants colors to see

And we’ll take all field of flowers
Make the street alive with spring
Make the place where lovers go
To love the way like lovers do

Then we’ll fly to the sky
And we chose we trought the stars
And our stars will tell the whole world
The love we had, we are …

The love we share is sweet
The love we know is real
That love is not a dream
but last a life time long

Because your love and mine we give
Without gleaming holdng in
And love that we have given
Return to ask the wind

Cause your love for me
Is not beginning and the end
Your love and mine is now
for me … forever

09 April 2010

Do something

Gua terus terang aja iri dengan profesi para wartawan. Mereka dekat dengan sumber berita (kalau nggak dekat ya nggak dapat berita ya?). Dengan cepat mereka mendapatkan informasi, mengolah, dan menyajikan informasi yang mereka peroleh. Detik demi detik. jadi sangat berarti bagi mereka karena tiap detik itu bisa jadi berita yang menarik dan jadi "headline' dimana semua mata orang tertuju pada berita yang mereka buat.

Profesi wartawan ini yang sebenarnya sempat gua idam-idamkan waktu SMA dulu karena pada dasarnya gua senang pada sesuatu hal yang berkaitan dengan tulis menulis. Saking semangatnya, gua ingat waktu itu sempet nyari brosur pelatihan wartawan jarak jauh. Namanya Al Jabr, kalau nggak salah. Yang namanya jadul, nyari infonya jg liat2 di koran dan ngirim lewat surat. Padahal kalo nggak sabaran, surat itu nyampenya bisa berminggu-minggu. Toh, itu gw jabanin juga. Udah dapat brosur, ikut pelatihan dan ya sudah begitu aja. Karena gua juga tahu bahwa untuk menjadi wartawan itu bukan lah proses yang instan. Namun perlu waktu dan pengalaman.

Namun, garis tangan rupanya tak mengarah ke situ. Tapi, tak apa. Toh seiring kemajuan teknologi, internet memudahkan harapan yang dulu pupus kini bangkit kembali. Sedikit-sedikit gua belajar merangkai kata (bukan bunga lho ya?) dan mencoba memberanikan diri untuk membuat 'berita' dalam bahasa gua sendiri. Sebenarnya bukan cuma sekedar merangkai kata, merangkai ide mungkin itu bisa jadi lebih tepat. Di sela-sela pekerjaan yang kadang tak terlalu padat, ide tulisan yang banyak itu bisa jadi liar dan kadang 'stuck'. Tapi, jujur sering macetnya dibanding jadi liarnya.

Dulu waktu masih jamanya buku diary yang jadi tempat kreatif bagi sebagian orang, gua pernah nyoba mengikuti ide untuk belajar menulis apapun dalam satu hari di buku diary. Dan, not bad lah waktu itu, hari per hari gua target bisa bikin tulisan. Setidaknya satu lembar penuh buku diary. Tulisan demi tulisan baik itu cuma curhat ataupun tulisan topik-topik tertentu yang up to date. Gua merasa mengalir saja. Enak gitu. Sayang diary yang gua corat coret itu hilang entah kemana. Padahal isinya udah lumayan banyak.

Sayang juga, setelah itu karena kesibukan gua lainnya, ide menulis perlahan pupus dengan sendirinya. Bener juga kata orang, semakin kita malas menulis semakin sulit ide keluar. Mungkin kalau nulisnya dulu rajin lain ceritanya kali. Tapi, apapun itu dalam menulis, gua feel free to expose my experience. Romantisme, keberhasilan, kegagalan, angan, cita-cita dan harapan kadang menjadikan tulisan sebagai pelampiasan atas semua itu. Kalaupun sekarang harus mulai lagi, mungkin akan perlu adaptasi lagi. Namun cepat atau lambat, gua yakin bisa akan mengalir seperti sedia kala. Do something and you get things!


26 Januari 2010

John Grisham

The main dangers in this life are the people who want to change everything. Or nothing - Lady Astor -

Gua suka dengan novel-novelnya John Grisham. Gaya berceritanya yang mengalir dan mempunyai kedalaman isi, itu sangat menarik. Sebagai mantan praktisi hukum, dia mempunyai banyak kasus yang bagus untuk dibuat novel. Gua pernah baca di website (jgrisham.com)-nya bagaimana dia mulai menulis novel. Dia dengan tekun menulis cerita dengan mencuri-curi waktu sebelum jam kerja. Itu dilakukannya sebelum dia terjun secara penuh sebagai novelis. Untuk novel pertamanya (A Time To Kill), coba tebak berapa lama dia menyelesaikannya? Tiga tahun, boo!! Gila nggak?! Tapi itu bukan hal yang sia-sia, karena setelah itu nama dia menjadi top banget. Dan, setelah itu novel-novel legal thriller-nya bertebaran. The Pelican Brief , The Firm, The Pelican Brief, The Client, The Chamber, The Rainmaker, The Runaway Jury, The Partner, The Street Lawyer, The Testament, The Brethren, A Painted House, Skipping Christmas, The Summons, The King of Torts, Bleachers, The Last Juror, The Broker, Playing for Pizza, The Appeal, and The Associate


Dari beberapa novel karyanya, ada beberapa novel yang gua rasa mempunyai pola dan alur cerita yang sama. Kita bisa lihat, biasanya sang tokoh adalah mahasiswa hukum atau kadang dia mengambil tokoh yang sangat biasa. Kemudian punya kasus hukum. Kasus membesar. Dapat sesuatu yang besar (duit, kasus). Kemudian lost begitu saja. Jadi biasa saja. Back to normal life. Jadi kayak orang mau dapat undian lotere kemudian hilang. Begitu saja. Tetapi, kekuatan novel thriller nya John Grisham yang pernah gua baca dia bisa menjalin alur cerita yang cantik dan mendalam. Terutama dalam konflik konflik legal para tokohnya. Sangat dalam dan kaya warna. Serta inspiratif. Gua suka.

06 Januari 2010

BE 7456 AT

Terkesima. Setengah nggak percaya satpam hotel bintang empat S**** (edited: gak mau jadi kasus Prita Jilid II hehehe..) yang di bilangan Gunung Sahari bertanya


"Bener Bapak mau ke S****?"

Kayaknya gua nggak meyakinkan bener jadi tamu hotel. Gua lihat ada nada pelecehan darinya. Sambil pikir-pikir, gua lihat diri sendiri apa ada yang salah dengan gua sampai-sampai satpam nggak percaya gua ada perlu di hotel itu. Tampang gua juga bukan tampang teroris. Gua juga nggak bawa tas gedhe. Kayaknya nggak ada yang salah kecuali mungkin BE 7456 AT gua.


"Bener, Pak!! Saya ada undangan rapat di sini" kataku meninggi


"Saya dari Departemen K*** Ditjen P**. Apa perlu saya mengeluarkan Surat Undangannya?"


Narsis gua muncul juga


"oh ya, Pak , Enggak...enggak perlu. Silahkan masuk" akhirnya satpam itu mempersilahkan gua masuk juga.


Brengsek tuh satpam. Kataku setelah masuk ke dalam hotel. Mentang-mentang gua bawa motor butut, dia seolah gak percaya gua ada acara penting di hotel itu. Isteriku yang kebetulan ikut mendengarkanku ngomel sambil senyum-senyum.


"Tadinya, aku mau ketawa melihat satpam nanya kayak tadi, tapi lihat kamu marah, jadi gak jadi ketawa" kata isteriku.


Aku nggak habis pikir bagaimana orang menjadi sangat materialistic oriented. Hanya berorientasi pada hal yang bersifat kebendaan kemudian bisa menilai orang dari apa yang melekat padanya. Mampu atau tidak mampu untuk cuma masuk ke hotel. Kasihan banget tuh satpam!! Entar kalo gua keki gua bawain toyota crown saloon tuh ke hotel itu!!

29 September 2009

Chasing

Tak ada yang istimewa dari sebuah bungkus. Bungkus hanyalah sebuah bungkus. Ambil isinya dan buang itu bungkusnya ke tempat sampah. Bungkus bisa berupa apa saja bisa kertas kado yang indah, sampul surat atau kertas koran biasa. Tapi sudah lah.. itu tak berarti apapun.

Namun bagi orang marketing bungkus bisa berarti hal yang lain. Bungkus bisa jadi memberi nilai tambah (value added) bagi produk yang dijualnya. Maksud saya, namanya suatu produk tentu yang di-sell adalah produknya. Jadi suatu barang menjadi bernilai tinggi karena kualitas barang lah yang dijual. Bungkus hanya menambah nilai jual suatu produk. Orang akan memburu barang yang mempunyai kualitas tinggi dan akan lari dari barang yang kualitasnya asal-asalan. Ambil contoh tuh, hape. Orang membeli hape karena kualitas produknya. Image orang langsung lari ke BB misalnya ketika orang bicara tentang gadget yang ngetrend belakangan ini. Handphone atau smartphone menjadi lebih menarik dan mahal harganya manakala teknologi yang ditawarkan dibungkus dengan chasing yang ciamik. Bungkus atau chasing menjadi suatu yang bernilai tinggi di sini. Tentu lain halnya jika produk itu produk yang BM atau produk yang mirip-mirip (cast in the same mold).

Bungkus atau chasing menjadi value added yang artifisial. Nilai yang bisa menjadikan manusia merasa mempunyai kelebihan jika dibungkus dengan bajunya, jabatannya, atau mungkin kekayaannya yang tujuh turunan nggak habis. Atau juga keluarga besarnya. Dia merasa bangga dan merasa hebat dengan semuanya itu. Lupa bahwa itu hanya lah sesuatu yang melekat pada dirinya. Bukan milik kita yang sebenarnya. Itu hanya lah bungkus yang melingkupi diri kita. Sesuatu yang harus kita sadari suatu saat bungkus itu tak akan berarti apapun. Suatu saat chasing itu perlu untuk diganti atau mungkin dibuang ke tempat sampah.

Demikian juga diri kita. Saatnya kita memperbaiki diri. Memperbaiki cara pandang kita. Meluruskan kembali niat kita. Menjalani hidup kita dengan lebih tenang dan sabar. Dan, berani menatap kehidupan di depan kita dengan lebih tajam dan terpelihara. Lebaran 1430H ini saatnya. Semoga .

24 Agustus 2009

Si Laknat itu.........

Aku tak tahu kapan Si Rian (begitulah nicknamenya) mulai memakai Si Laknat itu.

Awalnya aku nggak percaya bahwa dia salah satu user. Aku tahu dia anak sekolahan banget. Penghapal pelajaran yang baik. Punya effort yang keras untuk tidak DO dari kuliah. Tapi memang ada yang salah dari pergaulannya. Ada yang aneh. Teman-teman yang dipilihnya. Teman-teman yang awalnya mengenalkan glamour kehidupan Jakarta Aku tahu dia sempet terpana dan mencoba mencari bentuk yang fix in dengannya. Sayangnya dia terlalu fly away. Mencari sesuatu yang ada di langit. Mencoba clubbing. Mencari dugem. Mencari kesenangan. Dicobanya linting demi linting ganja. Dituangnya sedikit demi sedikit liquor.Ketawa-tawa senang melupakan kepedihan dan kesedihan. Walaupun tak tahu apa yang diketawakan. Kebodohan atau kehampaan. Tak tahu itu. Lupa bahwa dia masih menjejakkan kakinya di bumi.

Rupanya perkenalannya dengan dunia lain membuatnya semakin susah untuk mengendalikan dirinya. Dia semakin tenggelam dalam dunianya. Lintingan-demi lintingan sudah tidak cukup lagi. Sedikit liquor tidak membikin dia mual lagi. Lalu, berlinting-linting ganja dan berbotol-botol liquor menjadi kawan hidupnya. Dia merasa menikmati dunianya sendiri. Sembunyi dari siapapun. Temen-temennya yang baik mencoba care, membuat dia tambah takut untuk bertemu dengan temannya itu. Dia sembunyi. Sudah lain jalan. Sudah terlalu jauh dia jalan dan ingin sendiri. Dia tak perlu teman lagi. Teman bagi dia ya Si Laknat itu.

Toh, sampai suatu ketika dia tak berdaya. Dia sakit. Dia tak bisa lagi mengerang pada siapapun. Tergeletak tanpa daya. Teman-teman yang awalnya mengenalkan dia pada Si Laknat itu tak kelihatan batang hidungnya. (Atau mungkin mereka telah lewat dahulu?).

Demikian mudah, seorang Rian menyelesaikan babak cerita.

Pesan pendek yang mengagetkanku tadi siang masih membuatku terpekur pada sore itu. Secangkir teh yang dingin seakan hanya jadi teman pajangan di meja. Aku enggan menyentuhnya. Kuhisap rokok yang tinggal separuh dan kuhembuskan asap rokokku kuat-kuat. Wuahhh...

Misteri. Misteri. Tak tahu kapan datang kembali.

14 Agustus 2009

Elegi The Special One

Tak terasa
Waktu telah merambat pelan
Menepis mimpi-mimpi
Membangunkan kesadaran
Ada hidup yang tak abadi

Meski tak sempurna

Satu satu menapak jejak hidup
Menyelesaikan babak demi babak

Akhirnya
Semuanya harus mengunci pintu
Semua asa
Semua romantisme
Semua kebahagiaan
Semua kesedihan

..........................

Selesai


dedicated to : (RIP) Mahmudin
(thanks to Karminto in Bintan)

24 Juli 2009

Pada Satu Waktu ( about Hendro story)

Lama aku tak nulis di blogku. Tanggal 25 Maret sampai dengan tanggal 24 Juli 2009. Wuih hampir empat bulan (eh malah empat bulan ding~!).

Tadi aku selintas ingat sama temenku waktu di Lampung. Hendro namanya. Umurnya sekitar 40-an lah. Akhir 90-an awal tahun 2000-an, dia mengelola bisnis wartel (waktu itu, hp masih mahal dan masih sedikit yang pakai). Lumayan maju, bisnisnya. Letak yang strategis dan dekat dengan perkantoran menjadi alasan kenapa usahanya maju. Disamping itu, yang jelas saingan yang tidak juga menjadikan usaha Hendro maju pesat. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan dia, dia mempunyai visi yang ternyata jauh ke depan. Dalam bayangan dia, Hendro sudah punya step-step dari usahanya. Dari usaha wartel yang terus berkembang, dia mempunyai rencana untuk mengembangkan usaha fotocopy . Pangsa pasar yang dia bidik jelas. Kebetulan tempat usahanya dekat dengan Balai Penataran Guru (BPG). Jadi, kalau ada orang yang sedang diklat atau ada kegiatan di BPG, orang tidak perlu jauh-jauh fotocopy ataupun telepon. Kebetulan waktu itu frekuensi diklat di BPG tinggi, Jadi dalam setahun, bisa dikatakan selalu ada kegiatan di sana. Hendro jeli melihat hal itu. Setelah usaha wartel dan fotocopy, sudah jalan. Hendro merencanakan membuka butik kecil-kecilan. Baju-baju, jilbab dia coba tawarkan ke pengunjung wartelnya. Not bad lah, ada satu dua orang yang mau lihat-lihat dan milih-milih dagangan dia. Sirkulasi butik dia ya tidak jelek-jelek amat. Masih ada income dari usaha butiknya. Rupanya, dari tiga unit usaha yang dia jalankan, dia coba kembangkan lagi unit yang lain. Dia merintis usaha jahitan (kebetulan waktu calon isterinya bisa menjahit). Disamping itu, dia juga bisnis MLM-an (mulut lewat mulut alias makelaran hehehe....) apa aja.

Aku pikir hebat orang ini. Step yang dia inginkan sangat jelas dan terarah. Dia punya kemampuan untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship yang mungkin tidak semua orang bisa berpikir kayak dia. Tentu, namanya usaha tanpa dukungan finansial yang kuat tidak akan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Itu bisa kita pahami bersama. Yang ingin saya garisbawahi adalah Dia bisa mengkombinasikan antara kemampuan finansial dan kemampuan entrepreneurship-nya dengan baik. Dan, mungkin yang tak kalah pentingnya untuk di upload di sini adalah, sebenarnya dia invalid. Dengan duduk di atas kursi rodanya, dia menjalankan usahanya. Keinvalidan dia tidak menjadikan dia give up atas hidupnya. Dia punya semangat. Dia punya kemauan. Dan, dia punya kemampuan untuk hidupnya. Tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain, dia melakukan semua itu. Aku tahu dia bahagia dengan semua yang telah diraihnya. Isteri yang setia dan anak (waktu itu masih satu) yang lucu memberikan dia tambahan kebahagiaan. Aku bangga berteman dengan orang-orang yang menjadi hebat. Orang yang bisa mandiri.

25 Maret 2009

Dalam ku berdoa

Pagi ini aku sempat berdoa. Doa yang sangat manusiawi. Doa untuk tidak banyak memohon. Selama ini, aku terlalu banyak memohon kepada Nya. Karena aku tahu banyak keinginan dan harapan yang banyak berjejalan di kepala dan hatiku ingin ku raih semua. Kali ini aku merasa malu meminta-minta terlalu banyak. Aku hanya ingin hidup yang tenang, damai dengan diriku sendiri. Dan, pada titik-titik tertentu aku mulai bisa merasa damai dengan diriku sendiri. Tak ada apa itu yang namanya euphoria.

Alhamdulillah,
hanya doa itu yang kupanjatkan. Memaknai sesuatu dengan apa adanya. Seperti air sungai yang tenang mengalir. Panta rhei kai uden menei

25 Februari 2009

Ironi

Hidup kadang harus diawali dengan ironi. Selalu ada gap. Selalu ada celah yang mungkin menjadi kekurangan yang harus ditutupi. Tapi, disitulah awal mula sebuah keberhasilan atau kegagalan, karena semuanya harus diperjuangkan yang kadang jalan terjal pun harus ditempuh. Bagi yang berpikiran positif, ironi menjadi semacam a fighting spirit yang mungkin jadi trigger kita untuk berbuat lebih baik dari sekarang.

Ada sebuah kisah cowok yang mengagumi seorang cewek yang smart, litle sweet and beauty litle girl pada waktu masih kelas empat SD. Kekaguman yang menjadi rasa menyukai dan kemudian mencintai dengan diam-diam. Si cewek tak pernah tau kalau cowok itu mencintainya. Dalam rentang waktu selepas SD sampai SMA, mereka berdua berpisah. Berjalan sendiri-sendiri. Mengikuti langkah kaki masing-masing. Tetapi bagi cowok itu, never ending love untuk cewek itu yang jadi inspirasi lamunan-lamunan puisi dan cerpennya. Perlahan kisah itu mengalir begitu saja. Sampai pada satu waktu dimana mereka dipertemukan lagi dalam satu moment. Komunikasi berjalan kembali. Sentuhan hati yang coba dirajut kembali oleh si cowok. Dia pikir inilah destiny dia berjodoh sama cewek itu. The second chance must be realized. Sekian lama berpisah kemudian dipertemukan kembali apa itu bukan sebenar-benarnya jodoh? Dengan keberanian dan kalkulasi sikap si cewek ke dia, ditembaklah cewek itu lewat sehelai surat cinta. Namun apa yang terjadi? Alih-alih dia disambut cewek itu dengan cintanya, disambut senyum manis pun tidak. Bahkan si cewek dengan lugasnya menyatakan bahwa persahabatan yang dijalin selama ini ternyata telah diselingkuhi dengan adanya maksud-maksud terselubung si cowok. Cewek itu marahnya bukan main. Dia memutuskan hanya cukup sampai disitu lah hubungan yang telah terjalin. Dan persahabatan yang terselingkuhi pun berakhir dengan tragis. Sungguh ironis!
Bertahun-tahun kemudian, cowok itu tak bisa habis pikir apa yang salah dengan cara dia mengungkapkan rasa sukanya. Akan tetapi, nasi telah jadi bubur, suka nggak suka percintaan dia harus kandas disana. Tertatih-tatih dia harus menegakan keberanian dia menatap masa depan. Toh hidup harus tetap berlanjut. Dia harus realistis...Inilah kehidupan

(cited from 'Matahari Masih Ada')

05 Januari 2009

Menjual Kehinaan

Andai kita berjalan baik dengan kendaraan umum atau pribadi, di sekitar Jakarta ataupun kota-kota besar di Indonesia akan kita jumpai pemandangan ironis yakni banyaknya pengemis dan peminta-minta yang berkeliaran di sekitar kita. Pengemis, peminta-minta menjadi satu keriuhan yang lain di belantara kota Jakarta dan sekitarnya. Dengan mimik yang benar-benar perlu dikasihani atau pura-pura minta dikasihani, mereka mencoba menghidupi diri mereka sendiri. Rupiah demi rupiah mereka kumpulkan. Gopekan, secengan berpindah tangan dari si dermawan ke si penghiba. Begitulah, mereka dapat penghasilan dari tempat dimanapun mereka mencoba mengais-ngais 'kelebihan' rezeki orang. Bisa di perempatan lampu merah, bisa di atas bis, bisa di kereta atau di tempat-tempat lain semisal tempat ibadah.

Nun jauh di satu tempat. Ada pengalaman seorang teman yang naik satu jurusan kereta api. Ada suara yang sangat memelas meminta-minta. Di antara desak-desakan orang yang naik kereta, menyeruak orang itu dengan lukanya. Diliriknya orang itu. Astaga!! Ternyata kakinya mengoreng penuh nanah. Dia yang tadinya simpati mendengar ratapan suara yang memelas, menjadi sangat mual melihat luka yang menganga itu. Dia menjadi jijik dan teringat selalu koreng yang menganga itu. Sampai tiga hari dia tak bisa makan.

Pada satu tempat yang lain, ada seorang peminta-minta yang bisa menghidupi dua orang isteri sekaligus dengan rumah permanennya. 'Cacatnya dia adalah 'blessing' bagi dia, sampai dia bisa menghidupi dua orang isterinya.

Banyak cerita lain tentang mereka, pengemis, peminta-minta, fakir, anak-anak terlantar yang banyak sekali tidak bisa terekspose media manapun.

Siapa yang harus mengentaskan mereka? Mereka sendiri? Masyarakat atau negara?

Amanat Amandemen Keempat UUD 1945 jelas-jelas mewajibkan negara untuk memelihara mereka semua. Pasal 34 ayat satu dan dua menyebutkan

Pasal 34 ayat 1 Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara
Pasal 34 ayat 2 Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan

Yang menjadi pertanyaan adalah dimana fungsi negara yang sebenarnya dalam memelihara fakir, miskin dan anak-anak terlantar? Tidak ada langkah konkrit negara dalam pandangan saya dalam hal ini. Praktis tidak ada sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat. Rakyat dibiarkan menjalani kehidupan mereka dengan cara mereka sendiri. Kalaupun bisa kehinaan mereka dijual, mereka akan menjual kehinaan itu. Mereka tawarkan kehinaan dengan cara mereka. Kalau toh itu mau disebut hina. Kehinaan yang ada di sekitar kita. Dan, hanya itu yang bisa mereka lakukan...........








12 Desember 2008

Putus

Cincin yang melingkar di jari manismu
Tak mampu mengikat cinta bersemayam
Tujuh tahun janji yang terpahat
Menjadi untaian abu yang hancur tersirap sang kala
Lalu kita pun tanpa makna

Sepi merasuk jiwa
Angin pun terasa berhembus di telinga
Ada kehampaan
Ada kelegaan

Putus adalah pilihan ketersakitan dari satu ikatan

01 Desember 2008

Avonturir singkat jakarta-bakauheni akhir november 2008

Seperti biasanya pada tiap malam sabtu dimana aku pulang, aku mulai pulang setelah pulang kerja. Jam empat seperempat, aku cabut duluan. Izin bos duluan. Dengan berjalan kaki, aku menyeberang ke sebelah hotel borobudur. Bis jurusan tangerang, cimone dan sekitarnya biasanya lewat disitu. Tidak sampai seperempat jam, bis P 100 lewat. Aku segera saja loncat kedalamnya. Menelusup di antara bau orang-orang yang mau pulang kerja. Perlahan bis itu maju. Tak perduli bis udah penuh, kenek bis masih aja menjejali bis dengan penumpang-penumpang yang berharap bisa pulang sebelum maghrib sampai rumah. Aku mencoba mencari tempat yang aman. Jauh dari himpitan dan injakan orang-orang disebelahku. Tapi, akibat banyaknya penumpang yang terus masuk, tak ada lagi tempat aman itu. Senggolan dan injakan serta bau keringat sudah menjadi bagian dari perjalananku. Sore itu juga.
Tak seperti biasanya, aku mencoba melakukan avonturir sedikit. Aku yang biasanya turun di kebon jeruk, sore itu aku ingin turun di kebon nanas. Nyari bis yang 'gila-gila' sedikit. Ngebut abisss.......... . Tancap gas. !! Tak terasa gerbang tol serang timur sudah didepan mata. Jam tujuh kurang aku dah loncat turun dari bis di gerbang tol itu. Kulihat ada beberapa orang yang nunggu bis disitu. Tak kulihat pak polisi yang menjaga tempat itu. Biasanya ada polisi yang menjaga disitu. Tak sampai lima menit, bis AC jurusan Merak datang. Segera aku naik ke bis itu. Tak seberapa banyak mobil itu. Kucoba kupejamkan mata. Perlahan mataku yang capai terpejam rapat.........
"Merak habis! Merak habis" teriakan kenek membangunkan tidur ayamku. Aku terkaget dan segera aku turun. Terminal Merak nampak menyambutku gelap dan berangin. Terminal yang ada di ujung Pulau Jawa kini telah terpisah dari dermaga Merak. Habis lebaran kemarin, mulai dioperasikan terminal baru Merak itu. Terminal yang menjadi sangat jauh bila kita turun kapal dari Bakauheni di Dermaga Empat. Disamping itu, terminal itu kayaknya belum siap benar dioperasikan. Itu bisa terlihat dari belum tersambungnya koridor antara dermaga dan terminal. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya orang yang baru dari dermaga turun dari kapal, terus mau naik bis waktu hujan datang, sementara koridor nggak nyambung. Pasti basah orang-orang itu!!! Disamping itu paving jalan di terminal juga belum merata da bergelombang, aspal pada bagian tertentu jalan yang juga nggak merata menambah kesan terminal jadi jelek. Belum lagi lampu penerangan terminal yang sangat minim dan pedagang kakilima yang berjualan disembarang tempat, menambah kesan terminal jadi kumuh. Tapi, itulah yang terjadi. Itu menjadi hal yang biasa-biasa saja bagi yang biasa melewatinya. Termasuk aku.
Aku segera bergegas ke tempat antrian tiket kapal. Tak banyak memang yang antri. Sambil jalan aku membeli tiket. Aku masuk ke kapal, mencari tempat menclok agar bisa bobo nyaman (he..he..he..) . Ruangan kelas satu kutuju. Semilir AC yang berhembus dan celotehan ibu-ibu yang baru belajar practice her first lesson in MLM lagi menceramahi seorang ibu yang satu bis denganku, memberi nuansa saat aku pejamkan mata dan coba membuang segala penatku. Bagiku, sudah menjadi hal yang biasa istirahat di tengah bisingnya penumpang lain. Yang penting bisa ngorok sebentar................Dua jam pelayaran akan membawaku ke Bakauheni.

Tak terasa, dua jam lewat aku terbangun. Kusingkapkan sedikit tirai jendela, aku kaget ternyata kapal belum juga merapat. Hanya bayangan hitam pulau kecil yang ada di sekitar pelabuhan Bakauheni. Tunggu punya tunggu, ternyata hampir satu jam kapal baru mulai merapat. Aku pun mulai turun dari ruangan. Sialnya, kapal merapatnya di dermaga empat. Tengah malam pula. Padahal tadinya kuperkirakan tengah sebelas malam aku sudah nyampai dermaga. Karena dermaga empat tidak ada koridor khusus untuk penumpang yang jalan kaki, terpaksa deh, aku turun lewat dek dasar kapal untuk keluar. Kulihat ada beberapa penumpang yang mulai mendekati pintu utamanya. Ada tujuh sampai sepuluh orang. Tiba-tiba ada sesosok tubuh yang tak terlalu kecil bertopi menyusup di antara orang-orang.
"Karang, Pak? Karang?! (Maksudnya, tanjungkarang)" dia menawarkan travel ke Bandarlampung.
Orang-orang yang biasa menyeberang sudah paham bahwa banyak calo di kapal yang menawarkan jasa travel. Aku melihat satu dua orang mendekat. Tertarik dengan tawaran dia.
Disebutlah harga 35.000 untuk sampai di Bandarlampung. Ada satu, dua orang yang berminat, termasuk aku. Ku pikir, malas juga kalo nunggu di dermaga empat yang pasti paling ujung dan tanpa fasilitas dan yang pasti paling jauh ke terminal bis atau travel. Syukur-syukur ada calo yang mau mencarikan travel. Kuintip dibawah sana ada beberapa mobil travel standby. Oke, deal sudah. Ketika pintu kapal terbuka, berhamburan lah orang-orang keluar kapal. Segera saja calo yang ada di daratan segera menyerbu ke kapal. Menawarkan travel dengan ramainya. Kebetulan calo yang mendekatiku tadi menawarkan APV. Lumayan. Paling enggak agak nyaman lah sedikit. Segera saja aku dan calon penumpang lainnya menuju mobil itu. Disitu ada beberapa calo lainnya. Mereka mengerubungi mobil itu.
"Geser, Pak. Geser...!" kata calo itu setelah aku masuk ke jok belakang.
Sudah ada satu penumpang di dalam. Segera saja ku pilih tempat duduk di pojok. Mobil itu cepat terisi. Sudah tujuh orang penumpang ada di dalam mobil itu. Delapan sama sopir. Tiba-tiba ada bapak dan anaknya yang mau ikut. Calo-calo itu minta kita yang sudah ada di dalam mobil untuk menggeser temapt duduk lagi.
"Mau geser kemana lagi!!?" salah seorang penumpang teriak "Ini sudah tiga orang satu jok. Mau ditambahin dimana?" marah rupanya bapak itu ke calonya
"Khan masih bisa" kata calo itu
Rupanya calo itu belum juga puas, masih diintipnya dalam mobil itu. Dicobanya dihitung lagi
"Bisa gimana? Lu liat enggak? Tuh udah penuh.....!" kata bapak yang marah itu
"Udah-udah!" kata bapak yang bawa anak "Kasihan juga anak saya kalo dipaksa naik" Bapak itu tidak jadi ikut mobil itu.
Akhirnya mobil itu akan berangkat juga. Sopir masuk ke mobil. Dia rupanya diikuti satu orang temannya yang ikut juga masuk setelah memberi uang ke para calo itu. Jadi dalam satu mobil itu, ada sembilan orang penumpang. Penuh juga mobil itu jadinya. Ketika mobil mau berangkat, calo-calo itu tiba-tiba saling berkejaran, mengitari mobil. Rupanya calo-calo itu memperebutkan uang yang dikasih sopir travel itu. Kulihat ada tiga calo yang saling berkejaran. Aku tidak melihat jelas berapa uang yang diperebutkan. Tapi, itu menjadi pemandangan yang menarik disela-sela keberangkatan travel itu. Tak jelas, calo yang mana yang dikasih sopir tadi. Tapi, itu 'jatah' yang diminta para calo itu. APV itu akhirnya berjalan, meninggalkan dermaga empat itu. Eh rupanya episode 'jatah' itu tak berakhir sampai disitu. Ketika travel itu sudah jalan kira-kira 1 kilometer dari gerbang dermaga, mobil yang jalan 50 km/jam itu dikejar sama motor. Sempat kejar-kejaran beberapa saat, akhirnya motor itu berhasil memaksa mobil travel itu minggir.
"Apa lagi?" tanya sopir galak. Seluruh penumpang travel kayaknya yang tadinya tidur-tidur ayam, jadi bangun.
"Ngasih berapa lu?" calo itu balik nanya
"Gua ngasih Bowo (temennya kali yang dikasih duit) total enam puluh lima ribu. Gua udah kasih semua ke dia. Semua!!!" nada sopir itu meninggi
"Masa si .....(?, lupa siapa yang dia sebut) ngasih gua cuma goceng (lima ribu)" kata calo itu sambil ngeloyor pergi. Sambil ngomel, sopir travel itu menjalankan mobilnya lagi.

Berakhir sudah semua ketegangan tadi. Rupanya itu tadi masalah duit. Oalah..........

Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, seandainya Si Bowo ngotot memang cuma sedemikian yang dikasih si sopir sementara calo yang mengejar mobil itu ngotot bahwa duit yang dikasih sopir travel itu enam puluh lima ribu. ...............
Mungkin episode 'jatah' akan berlanjut dalam episode lainnya pada tengah malam itu

Agenda Ekonomi Syariah dan AM IMF-WB 2018

Dimuat di Kanigoro.com 29 Agustus 2018 Annual Meeting International Monetary Fund-World Bank (AM IMF-WB) akan digelar di Nusa Dua Bali t...